“Susu Mbok Darmi” dan Seni Menjual Ketaksaan
Kumpulan esai ini lahir dari cara pandang semacam itu. Ia tidak disusun untuk menjadi sebuah bangunan pemikiran yang sepenuhnya seragam, apalagi untuk menawarkan satu teori yang dapat menjelaskan segala sesuatu. Esai-esai di dalamnya justru bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan yang lain, dari hal yang tampak sederhana menuju persoalan yang barangkali selama ini kita lewatkan.
Ada banyak cara untuk membaca kehidupan. Sebagian orang membacanya melalui angka, sebagian melalui peristiwa, sebagian lagi melalui pengalaman yang tidak pernah benar-benar selesai diceritakan. Penulis memilih membaca kehidupan melalui bahasa. Sebab bagi penulis dalam buku ini, bahasa bukan sekadar alat untuk mengatakan sesuatu. Bahasa adalah tempat manusia menyimpan ingatan, menyusun pengalaman, menyembunyikan kegelisahan, menyampaikan harapan, bahkan sesekali juga menertawakan dirinya sendiri.
Kumpulan esai ini lahir dari cara pandang semacam itu. Ia tidak disusun untuk menjadi sebuah bangunan pemikiran yang sepenuhnya seragam, apalagi untuk menawarkan satu teori yang dapat menjelaskan segala sesuatu. Esai-esai di dalamnya justru bergerak dari satu kemungkinan ke kemungkinan yang lain, dari hal yang tampak sederhana menuju persoalan yang barangkali selama ini kita lewatkan. Sebuah nama merek dapat membawa kita kepada persoalan ketaksaan bahasa. Sebuah kelas dapat membuka pembicaraan tentang empati dan kemanusiaan. Sebuah film horor dapat membawa kita kepada ketakutan manusia terhadap kematian, kehilangan, dan masa lalu. Bahkan sebuah lelucon dapat menjadi jalan untuk membaca sejarah dan mengingat luka yang pernah dialami masyarakat.
Barangkali itulah sifat esai: ia tidak selalu datang untuk memberikan jawaban. Ia datang untuk mengajak kita berhenti sejenak di hadapan sesuatu yang sebenarnya sudah lama kita lihat, tetapi belum sungguh-sungguh kita perhatikan.



Ulasan
Belum ada ulasan.