Nana Sastrawan
Perjalanan di Dalam Rumah
Kita menemukan teladan pada rumah
batu-batu menjadi pondasi, bata yang tersusun
dilapisi pasir dan semen, pada besi-besi bertiang
atap genteng, kayu-kayu atau baja ringan yang terhampar
menahan panas, hujan, badai dan dingin malam
pada tangan-tangan kuli bangunan yang bekerja
merasakan denyut kehidupan lain
tentang makna menjalani hidup
kita bisa membangun impian di setiap ruangannya
memadu kasih, beranak-pinak, berdoa
menuju hari-hari yang runcing di dunia
dan menerima pada yang fana
kita menemukan teladan pada rumah
pada pintu-pintu yang terbuka dan tertutup
jendela-jendela kayu, kaca yang membuka jalan cahaya
lorong angin dari ventilasi menghadirkan udara baru
cat yang berwarna-warni seperti tanda
bahwa perjalanan akan selalu menemukan perubahan
lemari, kursi dan meja menyimpan pakaian dan perabotan
sebagai wujud kesetiaan, tak pernah sembunyi dan menyembunyikan
kasur-kasur yang meletakkan lelah dari tubuh
dari pikiran dan kejenuhan
kita akan merasa pulang ketika di dalam rumah
detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun berlalu
waktu seolah menjadi nol
kita bisa menuliskan sejarah masa lalu
memilih harapan untuk bergerak ke masa depan
menyiapkan tekad menghadapi segala peristiwa
kita menemukan teladan pada rumah
pada buku-buku yang terpajang di rak buku
tentang kisah sangkuriang, batu belah, timun mas
sejarah perjuangan, ilmu alam, antariksa, ilmu hitung
menyaksikan gemuruh peradaban
kita bergerak dalam ruang renung
mengukur usia untuk kembali
pada rumah yang abadi
pada pemilik tubuh
pada penggenggam jiwa
yang hakiki
Januari 2022
Pelukan
Sudahkah kau melihat kematian yang sangat dekat?
semakin ku ingat pertanyaan itu
terasa jauh tubuh ini dengan pelukan
dari seorang kekasih
atau dari mereka yang mengasihi
lengan ini memang terlalu pendek
untuk memelukmu, tetapi kutemukan kehangatan
meskipun hanya menyentuh tubuhmu
gigil akan menjadi bara
dan membakar kehidupan
walaupun aku menyadari tentang kefanaan
ketika setiap orang saling berpelukan
di sanalah rasa cinta ditumpahkan
seolah dunia ini menjadi kekal
lalu, bagaimana jika izrail memelukmu?
saat itu, kedua tangannya menghembuskan
rasa dingin menjadikan segalanya sepi
namun, seluruh rahasia hidup terungkap
itulah sebabnya telapakmu terangkat
berdoa untuk menuju jalan yang paling sunyi
saat itu, satu per satu tubuh
akan lepas dari pelukan
menyisakan tangis dan kenangan
di depan pintu kubur rakib dan atid membawa buku
di sanalah kau akan membaca catatan kehidupan
siapa yang tidak memiliki iman
akan kehilangan kedamaian
di sanalah, kehidupan yang utuh akan menyambutmu
lalu, dengan apa kau akan menempuhnya
jika hari ini tanganmu masih saja membenci
sebuah pelukan?
Nana Sastrawan. Lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Dia pernah menjadi peserta Mastera Cerpen (Majelis Sastra Asia Tenggara 2013) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Ia meraih Penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015.
Mantap! I likr this a poem.Pertahankan rubrik ini! Thanks you!