Menyatukan Kegelisahan Penyair dengan Bahasa

Oleh Nana Sastrawan[1]

Puisi tidaklah sekadar menghiraukan pesan, isi, tema, tetapi dapat memberikan perhatian pada cara pengungkapan melalui bahasanya. Jika sekadar meniatkan puisi ‘hampa’, yang hanya memiliki ‘kekosongan’ dan hanya mengedepankan elaborasi ungkapan, kata-kata, bunyi-bunyi dari kata, tampilan, tentu saja pembaca akan ‘berdiskusi’ mencari makna dari puisi tersebut.

Sebaliknya, jika mengejar pesan atau makna pada puisi tanpa mengindahkan cara pengucapannya, ibarat sayur tanpa garam. Keduanya memiliki keterikatan yang kuat, penyair sudah seharusnya menyadari, memahami kedua hal tersebut sehingga ‘penyatuan’ itu akan terjadi, antara kegelisahan penyair dengan bahasa.

Membaca puisi-puisi dari buku 66 Sajak Menguak Jejak karya A. Rahim Eltara yang memiliki empat bagian seolah sedang melihat empat potongan waktu, empat jalan dan empat muara. Saya semakin yakin bahwa ‘penyair tidak akan pernah mati di negeri ini’, mereka akan tumbuh lagi dan lagi dengan karya- karya yang lahir sesuai zamannya meskipun penyair itu secara usia semakin menua. Tetapi puisi-puisinya akan semakin muda dengan tema-tema yang dihadirkan. Meskipun rumor kekhawatiran penyair akan hilang atau tergantikan dengan kemampuan AI yang kini sudah berkembang pesat. Nyatanya menulis puisi dengan tanpa bantuan teknologi masih dilakukan oleh para penyair dan menghasilkan puisi-puisi yang bagus.

Seperti yang saya ungkapkan di awal bahwa puisi tidak sekadar kata-kata, atau hanya memberikan ceramah untuk menasihati. Tetapi, menulis puisi akan sangat mendapatkan pengalaman, baik secara teks (bahasa), dan pesan yang terkandungnya (makna) kepada para pembaca. Begitulah hakikatnya karya sastra, oleh sebab itu kemampuan untuk menyatukan keduanya sudah seharusnya dimiliki oleh para penyair.

Teks puisi yang dihadirkan dari puisi-puisi di buku ini, tidak hanya berupa menceritakan kegelisahan penyair semata, melainkan teks tersebut adalah hasil dari memahami, mengamati, menganalisa dan lain sebagainya yang tentu saja teks puisi akan mengalami perubahan dari sekadar bercerita.

Ada beberapa hal yang saya perhatikan mengapa pada akhirnya puisi-puisi di dalam buku ini memiliki kekuatan pada teks yang merujuk pada pemaknaan. Pertama, gaya ungkap atau bertutur yang memang dimiliki kekhasannya oleh puisi. Gaya ungkap atau bertutur pada puisi akan sangat erat kaitannya dengan nalar si penulis puisi dan kemampuan berbahasanya. Sebab, peristiwa-peristiwa pada puisi-puisi di buku ini memiliki ruang tersendiri untuk diungkapkan dalam teks puisi, ini sejalan dengan penyair yang dengan mengamati peristiwa sekitar lalu ditangkap oleh nalar kemudian dituliskan dengan bahasa. Kedua, pemilihan kata. Puisi, biasanya selalu menyembunyikan makna dengan ‘simbol-simbol bahasa’. Yang sering banyak dikatakan bahwa puisi memiliki gaya bahasa. Nah, bagaimana itu tercipta, tentu dimulai dengan pemilihan kata yang tersusun secara acak maupun sistematis akan dapat membantu menghasilkan gaya bahasa.

Ketiga, imajinatif. Perlu disadari, puisi pada akhirnya akan berbeda dengan bahasa sehari-hari yang diucapkan atau bahasa pada novel. Sebab, bahasa dalam puisi dijadikan alat atau jalan untuk memantik pikiran. Dengan demikian, sering ditemukan ruang-ruang imajinatif pada puisi yang terlahir dari simbol-simbol bahasa yang diciptakan oleh penulisnya.

Satu di antara puisi-puisi dalam buku ini yang menarik perhatian saya berjudul “Perahu Kertasku”, sebuah puisi pembuka dalam bab pertama.

angin bergairah
mencumbui layar perahuku
menyusuri kali kecil yang gemulai
mencubit masa kanak-kanakku yang manja
di kampung yang beraroma dupa
tempat kumakamkan tangis tanpa upacara air mata

perahu kertasku membelah deru rindu
dialir semilir angin ke hilir
layarnya warna warni
bagai pesta kupu-kupu di pagi hari
menyinggahi pelabuhan kecil tanpa kelasi
sekadar menitipkan pesan cinta
pada moyangku penjaga tradisi

bila sudah bersandar di bandar
kabarkan padaku tentang kampung halaman
tempat kita menghabiskan masa kecil
bermain pengantin-pengantinan
bersanding di atas pelaminan
yang kita susun dengan mimpi-mimpi
penuh hiasan bunga udumbara dan mawar
lalu kita saling meminang pandangan yang menakjubkan

perahuku telah jauh berlayar
melampaui gugusan bintang-bintang
menembus kerlip kunang-kunang
tiba-tiba seorang peri berdiri
bertanya lantang pada gelombang:
“Di manakah kau karamkan perahu kertas Tagore
dan Sapardi?”

Puisi ini memberikan gambaran tentang kehidupan masa kecil seseorang di sebuah wilayah yang di kelilingi oleh kehidupan laut; dengan segala lokalitas kehidupan masyarakatnya. Jika kita cermati asal penyair yang berasal dari Nusa Tenggara Barat, tentu dapat kita pahami bahwa kehidupan laut menjadi ‘kegelisahan’ penyair dalam proses penciptaan karya-karya puisinya.

Misalnya puisi “Anak-Anak Bandar” pada bait: di bandar, suasana riuh/ bongkar muat impian yang kian gaduh/ anak-anak mengobral jasa di atas deck berpeluh/ keroncongan dan kerongkongan tak ada kompromi/ para cokong menawarkankan janji di bawah upah/ derita di dada makin perih diiris air mata. Kita dapat melihat kehidupan anak-anak di kehidupan laut, bagaimana mereka ‘bermain sekaligus bekerja’ mencari kebutuhan untuk bertahan hidup bersama keluarga mereka.

Puisi-puisi dalam bab satu ini hampir keseluruhannya memiliki gambaran kehidupan anak-anak di wilayah laut, aktivitasnya hingga kehidupan pendidikannya. Penyair seakan melihat masa kecilnya dari peristiwa-peristiwa yang anak-anak kecil itu yang ia gambarkan pada untaian larik-larik puisi.

Di bab kedua, ia mulai memfokuskan objek kegelisahannya pada ‘sosok’ yang tentu saja masih memiliki keterikatan dengan bab pertama. Jika di bab pertama, ia menjadi peristiwa-peristiwa di luar dirinya sebagai sumber ‘kegelisahan’ untuk menyampaikan kehidupan masa kecilnya. Bab kedua ini, ia menampilkan dunia dalam kehidupan dirinya, dengan sumber utama penyampai adalah ‘sosok’ ibu.

Pada puisi “Ma’ku Pemintal Benang”, meskipun bisa saja tokoh ibu pada puisi itu adalah ibunya sendiri, puisi ini pun bisa mewakili gambaran kehidupan para wanita di wilayah laut yang banyak bekerja sebagai pemintal benang secara tradisional.

Dan pagi ini,
masih dikepung kabut. Dendang kutilang
di rindang pepohonan, memecah sunyi.
Udara basah di pucuk perdu. Jemarinya
menari-nari memilin kapas. Helai demi helai
benang kasih dipintal, serupa riak,
mengalirkan cinta paling bening.

Di rumah panggung itu. Di depan
jendela, cahaya terasa lapuk,
sedikit menuai angin dari dedaunan.
Ia telah duduk berjam-jam memintal usia
menyimpan penat dan lelah di dadanya,
tak pernah menyerah,
pada senja.

Kerling matanya,
bagaikan mata penari,
mengikuti irama kehidupan,
sambil mengulas senyum tipis,
untuk menunda sejenak kusut di wajahnya.

Sekali waktu berujar:
“Kupintal hidupku,
kutenun cintaku,
kujahit risauku,
agar anak-anakku
tumbuh dalam kehangatan.”

Pada puisi ini memberikan potret perjuangan sosok ibu yang berusaha membesarkan anak-anaknya, meskipun harus lelah, penat dan terkepung oleh aroma kemiskinan, namun ia memiliki cinta yang tulus. Jika kita cermati puisi-puisi dalam bab kedua ini memberikan kesan yang sangat dalam tentang kerinduan pada sosok ibu yang pada akhirnya harus menyerah terkubur oleh batas usia.

Dalam puisi “Tempayan Ibu” menghadirkan kerinduan kepada ibu yang bisa saja ia telah tiada atau terpisah oleh jarak dari kampung halamannya, dari sejuk tempayan ibu/ aku meneguk rindu/ tak mabuk-mabuk. Tetapi sosok ibu ini dipertegas keberadaannya dalam puisi “Di Pusara Tua” yang menyampaikan ‘kegelisahan’ tentang sosok ibu yang telah tiada.

Di bab ketiga, puisi-puisi yang hadir menjadi semacam ‘perenungan’ bagi penyair untuk meresapi selama menjalankan kehidupan. Remah-remah ingatan semakin berkelabatan dalam puisi-puisinya, remah-remah ingatan dari masa ke masa hingga pada akhirnya ia menyadari sebuah tempat yang abadi.

Perenungan dalam puisi-puisi di bab ini ada pada puncaknya di puisi “Jalan Pulang” yang menyadarkan kita semua tentang keabadian dan tempat tujuan.

ada daun gugur,
ditiup angin senja,
hanyut dalam deras air mata,
menuju dermaga terakhir.

ada bunga kamboja,
loncat dari ketiak ranting,
bertasbih di tanah merah bata,
mewangi pucuk nisan,

ada ruh melepas raga,
menemukan jalan pulang,
ratapan duka menoreh luka,
menatap kepak sayap nyawa.
 
bayang terbaring sarat doa,
diusung zikir dan salawat,
pita suara menggigil,
di pintu kali terakhir.

Sedangkan di bab keempat, ia kembali menangkap lanskap kehidupan di luar dirinya; peristiwa-peristiwa seputar kehidupan laut dan masyarakatnya seolah ia ingin mengembalikan ingatan pembaca pada bab pertama, awal-awal membaca buku ini.

Itulah puisi-puisi A. Rahim Eltara pada buku ini, ia meracik kegelisahan-kegelisahan yang hadir dalam setiap langkah dalam menjalani kehidupan. Meramu dengan bahasa, menghadirkan simbol makna dan imajinatif pada peristiwa-peristiwa yang dihadirkan di setiap bait-bait puisinya.

Ya, penyair yang berkarakter adalah yang selalu gelisah dan selalu melatih dalam kemampuannya berbahasa. Semoga catatan ini dapat menjadi pintu gerbang untuk memaknai keseluruhan puisi-puisi dalam buku ini.

April 2026

[1] Peraih Penghargaan Acarya Sastra IV Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI Tahun 2015

dewabuku

all author posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are makes.