Buku ini lahir karena rasa yang gelisah dari hati. Bagaimana kisah cinta dua insan yang terbentang jarak anatara dua negeri yang ingin bersatu di masa depan. Kisah cinta ini akhirnya dituliskan menjadi narasi-narasi yang menarik dengan bahasa lokal ‘Tegal’.
Pilihan bahasa yang menggunakan bahasa Tegal adalah mempertegaskan bahwa ‘sastra etnik’ tidak kehilangan suaranya di kalangan masyarakat. Bahasa daerah juga bisa menjadi alat pikir dan alat ekspresi untuk menyampaikan sesuatu kepada masyarakat umum.
Cinta dalam buku ini bukanlah sekadar sebuah imajinasi. Buku ini seolah sedang memotret kehidupan yang realis atau nyata di tengah-tengah kehidupan masyarakat dalam mempertahankan kehidupan ekonominya, sehingga perpisahan harus terjadi, dan kesetiaan diuji dengan jarak yang terpisah antara ruang dan waktu.


Ulasan
Belum ada ulasan.