Sajak-Sajak tentang Lie tidak semata-mata berbicara tentang rindu dalam pengertian yang sederhana. Ada rindu kepada seseorang, tentu saja. Ada pula rindu kepada masa lalu, kepada rumah, kepada orang tua, kepada masa kanak-kanak, kepada sesuatu yang pernah kita yakini, bahkan kepada bagian diri sendiri yang pernah kita tinggalkan tanpa sempat kita sadari. Dalam beberapa cerita, rindu hadir sebagai cinta; dalam cerita lain ia menjelma kehilangan, ingatan, doa, mitos, keganjilan, humor, atau sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
Lie menjadi salah satu jejak yang mempertautkan cerita-cerita di dalam buku ini. Ia hadir sebagai nama, sebagai tokoh, sebagai ingatan, tetapi juga sebagai kemungkinan makna yang lebih luas. Dalam cerita yang menjadi pintu pembuka antologi ini, Lie mendengar suara yang ia kira berasal dari luar dirinya, sampai kemudian berhadapan dengan kemungkinan bahwa suara itu sesungguhnya berasal dari bagian dirinya sendiri yang lama ia tinggalkan. Rindu, dalam cerita itu, tidak lagi sekadar kerinduan kepada seseorang. Ia bergerak menjadi pencarian terhadap sesuatu yang pernah hidup di dalam diri, tetapi perlahan terlupakan.
Dari sana, cerita-cerita berikutnya bergerak melalui lorong berbeda-beda. Sajak-Sajak tentang Lie memperpanjang persoalan cinta, kehilangan, dan ingatan melalui sajak-sajak anonim yang hadir sebagai jejak seseorang yang tidak sepenuhnya hadir. Sajak-sajak itu seperti suara dari masa lalu: samar, tetapi cukup kuat untuk mengusik ingatan. Di dalamnya, cinta tidak selalu membutuhkan kepastian untuk tetap memiliki resonansi.

Ulasan
Belum ada ulasan.