Ada satu hukum tidak tertulis di bawah gemerlap langit malam Metropolis: segala bentuk keindahan yang diperjualbelikan selalu datang bersama sebuah tanggal kedaluwarsa. Siti—yang kelak menobatkan dirinya dengan nama mentereng, Siti Suksesi Mahardika Sagala-Gala, pernah bertahta di puncak ilusi tersebut.
Dari bilik kamar warteg yang pengap di Jakarta hingga surga kaca penthouse Southbank di Melbourne, ia menukar keluguannya dengan kilauan rupiah dan kebebasan mutlak. Ia merasa bisa menguasai segala-gala hal di dunia hanya dengan modal pesona wajahnya. Namun, panggung sandiwara yang dibangun di atas tanah pasir tidak pernah dirancang untuk bertahan dari hantaman waktu. Saat tirai diturunkan, sang primadona dipaksa kembali ke dasar bumi—terasing, terlupakan, dan hancur di bawah kolong jembatan.
Sebuah novel sastra urban yang tajam tentang ambisi liar, keliaran malam, dan penyesalan yang terlambat di akhir masa kedaluwarsa.

Ulasan
Belum ada ulasan.