Menyibak Tanda, Membaca Rahasia

Oleh Abu Ma’mur MF*

 

Tidak semua tanda meminta untuk dimengerti. Sebagian justru hadir sebagai teka-teki yang menolak dikurung dalam definisi. Dalam dunia yang terlampau tergesa menyimpulkan, antologi puisi Rahasia Tanda karya M. Enthieh Mudakir bagi saya adalah undangan untuk melambat, merenung, dan membaca ulang realitas—bukan melalui kacamata logika belaka, melainkan melalui qalbu, sejenis peranti baca batin yang kerap terlupakan.

Sejak puisi pembuka “Rahasia Tanda”, saya merasa diajak menyadari bahwa puisi dalam buku ini bukan sekadar bahasa, tapi juga ruang tafsir. Dalam baitnya, Enthieh menulis: “Puisi ini merupakan / Pencarian rahasia tanda // Di mana qolbu merisetnya / Menelusuri rahasia demi rahasia//.” Bagi saya, ini adalah kredo awal, semacam deklarasi bahwa puisi adalah alat riset ruhani. Maka ia tak cukup dibaca dengan akal. Ia perlu dirasakan, didiamkan, diresapi.

M. Enthieh tidak sekadar menulis; ia menyulam. Ia tidak menyusun kata demi keindahan, tapi demi kejujuran. Kejujuran yang acap menyakitkan, karena mengungkap apa yang selama ini tersembunyi di balik kesalehan semu, di balik politik basa-basi, dan di balik bahasa yang terlalu sering menjadi alat kekuasaan ketimbang wadah kebenaran.

Bagi saya, antologi ini bergerak di antara dua poros yang tampaknya kontradiktif, tapi di tangan Enthieh justru menyatu dengan indah: spiritualitas dan kritik sosial. Namun keduanya tidak ditampilkan dalam dikotomi. Dalam puisi-puisinya, yang profan bersanding dengan yang sakral. Tuhan hadir bukan dalam dogma, tapi dalam kesenyapan yang menggetarkan. Politik muncul bukan dalam retorika, melainkan dalam gumam perenungan yang menggigit.

Contohnya dalam puisi “Tanda-Tanda”, ia menulis: “Zaman di mana zaman / sungsang banyak  orang / pandai bersilat lidah, / wong edan nuduh wong waras, / wong waras kehilangan akal sehatnya.” Ini, bagi saya, bukan sekadar kritik terhadap kekuasaan, tapi juga terhadap mentalitas massal yang kehilangan kompas nurani.

Kelebihan M. Enthieh sebagai penyair, menurut saya, adalah keberaniannya untuk tetap lembut di tengah dunia yang bising. Ia tidak berseru, ia berbisik. Tapi justru bisikannya mengguncang. Puisinya seperti lantunan zikir yang pelan namun menghunjam, menelusup ke dalam ruang terdalam pembaca dan meninggalkan gema yang lama hilang.

Tak hanya itu, gaya bahasanya menjunjung kesederhanaan yang mencelakakan. Celaka bagi siapa? Bagi mereka yang hanya membaca di permukaan. Karena di balik larik-larik yang tampak tenang, tersembunyi ombak tafsir yang bisa menenggelamkan siapa saja yang terburu-buru menilai. Saya tidak merasa dia sedang mengajak untuk mengerti, tapi untuk menyertai.

Puisi “Ke Dasar Hidup” mengilustrasikan ini dengan cemerlang: Ke dasar laut merendam perih / Ke dasar hidup menyadarkan sesama / Kita cuma lahir yang ditentukan / Menjadwal sendiri biduk labuhan. Di sini, Enthieh tidak sedang berkhotbah, melainkan membiarkan pembaca menafsir hidup sebagai pelayaran yang sunyi, penuh perhentian, dan membuka celah bagi pertemuan dengan diri terdalam.

Jika puisi adalah bentuk lain dari doa, maka Rahasia Tanda bagi saya adalah kitab doa yang tidak dibacakan, tapi dirasakan. Sebagian puisinya tidak bisa diselesaikan dalam sekali duduk. Ia memerlukan jeda. Kadang diam lebih penting daripada kesimpulan. Kadang menangis lebih sahih daripada mengerti.

Penyair tidak memosisikan dirinya sebagai nabi, tapi sebagai pengelana. Ia tidak menyampaikan wahyu, tapi mengungkap serpihan tanda. Dan dalam serpihan itu, saya merasa, pembaca bisa menemukan dirinya sendiri—yang terluka, yang ragu, yang sedang mencari, atau yang mungkin sedang berpura-pura utuh.

Salah satu kekuatan mendasar dalam antologi ini adalah keberaniannya untuk tidak mengikuti bentuk. Tidak ada pakem tunggal yang ditaati. Bentuk puisi dibiarkan tumbuh sesuai nadinya. Ini membuat buku ini terasa organik—setiap puisi seperti makhluk hidup yang bernapas sendiri.

Namun bukan berarti buku ini tanpa struktur. Justru, dalam keacakan yang tampak, tersembunyi keharmonisan yang halus. Ibarat semesta yang tampak kacau, tapi sejatinya diatur oleh hukum-hukum yang tidak selalu terlihat. Saya menangkap kesan bahwa Enthieh menulis seperti seseorang yang mendengar semesta, lalu merekamnya dengan keheningan.

Dalam puisi “Aku Bernama Muhammad Islam”, kita menjumpai sebuah pernyataan identitas yang menolak simplifikasi. Ia tidak mereduksi Islam pada simbol atau slogan, tapi menjadikannya pengalaman yang mengalir: “Tidak sekadar narasi / Mempunyai makna tersendiri / Ke dalam dan ke luar / Hidup berkisah inti.” Di sini, saya melihat Islam bukan sebagai jargon, tapi sebagai jejak.

Dan begitulah seluruh buku ini bekerja. Ia bukan semata kumpulan puisi. Ia adalah semacam perjalanan. Bukan ziarah makam, tapi ziarah makna. Setiap puisi adalah batu tanda dalam jalan setapak menuju rahasia yang tak pernah selesai ditebak.

Maka, membacanya bagi saya bukan sekadar kegiatan literer. Tapi spiritual. Dan mungkin juga politis. Sebab dalam dunia yang semakin mengaburkan batas antara kenyataan dan propaganda, membaca puisi yang jujur adalah bentuk perlawanan. Dan Rahasia Tanda adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi, namun paling tajam.

Dalam mengamati satu demi satu puisi dalam buku ini, saya merasakan semacam denyut batin yang beresonansi dari larik ke larik. Bukan dalam bentuk narasi utuh, melainkan seperti suara-suara dari kedalaman yang saling bersilaturahim, bersahutan, seperti gema dalam ruang batin yang tidak ingin segera dijelaskan. Puisi “Rahasia Tanda” sebagai pembuka menjadi benih tafsir, yang kelak menjelma hutan makna dalam halaman-halaman selanjutnya.

Tema yang terus berulang adalah pencarian: pencarian akan makna, akan Tuhan, akan keutuhan jiwa yang tercerai. Tapi pencarian dalam puisi-puisi ini bukan perjalanan epik yang heroik, melainkan ziarah harian yang pelan dan personal. Misalnya dalam puisi “Waktu Pun”, saya membaca kesadaran waktu bukan hanya sebagai dimensi kronologis, tapi juga sebagai peristiwa spiritual: “Tidak usah ingin tua / Pasti renta // … // Kedamaian dunia / Ada di jiwa // Di hatimu / Hutan, gunung, laut.”

Tapi pencarian itu tak selalu bersifat personal; kadang ia bergema dalam luka sosial. Dalam “Demokrasi di Ujung Kelam”, penyair menulis: Aku sedang menidurkan diriku dari alam gaduh / Loncatan kata dari bencana yang runtuh. Larik bahwa alam demokrasi, sudah / di ujung kelam menggambarkan sistem yang tak lagi menuntun, melainkan tergelincir dari akal sehat dan melata tanpa cahaya batin.

Yang juga menarik bagi saya adalah bagaimana tubuh dan kata berkelindan dalam puisi-puisi ini. Dalam larik “Tubuhku bersenggama / Mencari pasangan / Pada tubuh sendiri”, saya tidak hanya membaca refleksi tentang kesatuan eksistensial, tetapi juga percikan gagasan tentang integrasi spiritual yang melampaui dikotomi jiwa dan jasad. Kata-kata tidak hanya membawa pesan, tapi juga menyimpan gerak. Sebuah gerak batin yang mendalam.

Saya melihat Rahasia Tanda sebagai teks yang secara estetik terbuka terhadap fragmentasi. Banyak puisinya tidak berpola baku, dan justru dalam keterbukaannya itu kita diajak untuk tidak segera menutup makna. Kita diajak tinggal dalam puisi, bukan menaklukkannya. Maka membaca buku ini bukan sekadar soal penafsiran, tapi juga tentang menemani.

Dan pada titik ini, saya merasakan kehadiran puisi bukan sebagai cermin dunia, melainkan sebagai ruang gema. Sebagaimana Paul Ricoeur menyebut teks puitik sebagai bentuk distansiasi yang kreatif, puisi-puisi Enthieh memberikan saya jarak dari realitas sehari-hari—jarak yang justru memungkinkan saya melihat lebih jernih, lebih utuh.

Dalam setiap puisi yang saya baca, ada semacam energi yang tidak ingin dikuasai. Ia ingin didengarkan. Dan saya memilih untuk mendengarkan.

Menyelami Simbol, Menemukan Diriku Kembali

Apa yang membuat puisi-puisi dalam Rahasia Tanda begitu menghantui saya bukan hanya temanya yang religius atau filosofis, melainkan kemampuannya memadatkan pengalaman eksistensial—baik dalam bait-bait pendek yang sunyi maupun larik-larik yang mengalir deras dan bergelombang. Dalam keduanya, tersimpan suara batin yang menggema jauh. Saya jadi teringat ungkapan Jalaluddin Rumi, kurang lebih bahwa kata-kata hanyalah jembatan, dan makna sejati tinggal di antara diam dan gemetar. Buku ini seperti itu: ia tidak menjelaskan, tapi menghadirkan getar.

Kehadiran benda-benda sehari-hari dalam puisi-puisi Enthieh bukan sekadar pernak-pernik. Mereka membawa jejak spiritualitas keseharian. Dalam puisi “Cerita Sandal”, misalnya, benda yang sering kita abaikan menjadi medium tafakur: Biarlah sandal jepit bututku, / tak kubutuhkan, kubuang // Lagian sudah tak digunakan / Sungaikan saja ke segara… Bagi saya, ini bukan sekadar gestur membuang benda, tapi simbol tentang kelegaan melepaskan—sebuah laku batin yang jernih. Dalam perspektif semiotik Roland Barthes, ini adalah bentuk mitologisasi benda banal—puisi yang mengangkat sandal dari fungsi ke makna: simbol ikhlas, pelepasan ego, dan jejak spiritualitas di sela hal paling remeh.

Saya juga merasa bahwa puisi-puisi Enthieh menghidupkan kembali semangat para penyair mistik Nusantara. Nama-nama seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, dan bahkan Ronggowarsito bergetar samar dalam larik-larik ini. Mereka semua pernah menulis dengan nada yang mirip: lirih, tapi penuh nyala. Misalnya dalam “Qori’ah Cinta”, larik Nikmat ilahiyah / Luh jabariah menyeruak sebagai gema metafisika yang tak lekang. Bukan hanya spiritual, tapi juga historis—menyadarkan saya pada tradisi sufistik Indonesia yang lama terabaikan: kecenderungan spiritual yang puitik, kontemplatif, simbolik, dan mendalam—yang kini jarang mendapat tempat dalam wacana Islam dominan.

Aspek performatif dalam puisi-puisi Enthieh juga menggugah. Meski lariknya menetap di kertas, saya membayangkan ia dibaca dalam kesunyian—di antara detak malam atau lengang sajadah. Banyak bait terasa seperti dzikir: repetitif tapi tak membosankan, justru membuka makna yang tersembunyi. Dalam “Aku Udara dan”, penyair menulis: Bila kau menyakiti / Karena aku udara / Aku tidak pernah luka // Kau lihat sendiri angin menerpa / Justru terhempas sendiri. Ini bukan sekadar kelapangan batin, tapi upaya dekonstruksi diri: membebaskan “aku” dari hasrat membalas demi hadir sebagai ruang yang lapang. Derrida mungkin akan menyebutnya: makna yang lahir dari keretakan identitas.

Lalu bagaimana dengan cinta? Dalam buku ini, cinta bukanlah sekadar urusan antara dua insan yang saling memiliki. Cinta, bagi Enthieh, adalah ruang tanpa kepemilikan. Dalam puisi “Cinta”, ia menulis: aku alamatkan cinta / membagi duka derita / membagi juga dahaga / membagi pula tawa ria / bukan untukmu semata / segenap latar hirarkinya. Larik-larik ini tidak sedang menyanyikan cinta yang menuntut balasan, melainkan cinta yang mengalir: tak bertanya siapa, tak memilah rupa. Sebentuk agape (cinta tanpa syarat), yang menyerupai napas Tuhan sendiri—menghangatkan siapa pun yang hidup, tanpa harus dikenal atau dikembalikan.

Saya juga ingin menyoroti bagaimana konsep “tanda” dalam buku ini meluas ke hampir semua dimensi kehidupan. Tanda bukan hanya simbol atau isyarat, tapi bisa menjadi napas, cahaya, luka, bahkan keheningan. Dalam kerangka pemikiran Charles Sanders Peirce, tanda dalam puisi-puisi ini lebih banyak bersifat indexical—ia tidak menunjuk langsung, tapi menunjukkan melalui jejak dan pengaruh. Maka makna tidak hadir secara instan, melainkan tumbuh perlahan dalam kesadaran pembaca.

Heidegger, Kehadiran, dan Puisi yang Mengada

Ketika saya membaca Rahasia Tanda, tak henti saya kembali pada pertanyaan paling mendasar dalam eksistensialisme Martin Heidegger: Apa artinya menjadi? Bagi Heidegger, menjadi bukan soal siapa kita secara biologis atau sosial, melainkan soal bagaimana kita hadir di dunia dengan kesadaran akan keberadaan itu sendiri. Dalam istilahnya: kita adalah Dasein—makhluk yang “ada-di-dunia” (being-in-the-world) yang tidak hanya hadir, tetapi selalu dalam proses menjadi. Maka puisi, dalam pandangan ini, bukan sekadar medium ekspresi, tetapi cara manusia mengada: cara manusia menampakkan keberadaan di tengah dunia yang penuh tirai, penuh ketersembunyian.

Puisi-puisi di buku ini, bagi saya, merupakan pengungkapan being—pengungkapan eksistensi yang jujur, bahkan kadang getir, melalui larik-larik yang seperti gumaman. Kita bisa melihatnya dengan jernih dalam puisi berjudul “Rahasia Tanda”:

Puisi ini merupakan
Pencarian rahasia tanda
Di mana qolbu merisetnya
Menelusuri rahasia demi rahasia

Tak ada metafora yang rumit di sini. Tapi justru dalam kesederhanaannya, larik ini mencerminkan apa yang dalam Heideggerian disebut sebagai tindakan hermeneutic disclosure—pengungkapan makna melalui pemahaman yang lahir dari keterlemparan kita dalam dunia. Kita membaca, dan kita ikut mencari. Kita tidak berada di luar puisi, tetapi ditarik masuk dalam pencarian itu. Puisi bukan untuk dinilai atau diadili, tetapi untuk disertai sebagai pengalaman.

Konsep keterlemparan (Geworfenheit) dalam eksistensialisme Heidegger menunjukkan bahwa manusia tidak memilih untuk lahir di dunia; ia dilempar ke dunia, lalu dituntut untuk merespons keberadaannya. Dalam puisi “Ke Dasar Hidup”, saya melihat bagaimana penyair menghadirkan kesadaran itu secara sangat puitik:

Ke dasar laut merendam perih
Ke dasar hidup menyadarkan sesama
Kita cuma lahir yang ditentukan
Menjadwal sendiri biduk labuhan

Bait ini tak mengajarkan, tak memberi petuah. Ia hadir sebagai peristiwa. Di sinilah kekuatan puisi: bukan memberi tahu, tapi membawa kita mengalami. “Ke dasar hidup” bukan hanya lokasi metaforis, tetapi ajakan untuk masuk ke wilayah terdalam dari keberadaan, di mana rasa dan makna menyatu tanpa perlu diberi nama. Heidegger menyebut kondisi ini sebagai bentuk meditative thinking, bentuk berpikir yang tidak menganalisis, melainkan tinggal bersama sesuatu dengan penuh keterbukaan. Dan dalam larik ini, saya merasa: puisi bukan tempat menemukan Tuhan secara teoritik, melainkan ruang untuk merasakan-Nya diam-diam.

Heidegger juga mengajarkan bahwa waktu adalah aspek paling fundamental dalam eksistensi manusia. Bukan karena kita hidup dalam jam atau hari, tapi karena kita sadar bahwa waktu akan habis. Manusia, katanya, adalah satu-satunya makhluk yang menuju-kematian (Sein-zum-Tode). Dalam puisi Waktu Pun, saya menemukan resonansi itu dengan sangat halus:

Tidak usah menunggu mati
Pasti menjemputnya

Nikmat mana lagi
Yang Aku dustakan

Penyair tidak sedang menata waktu dalam angka, tapi merasakannya sebagai peristiwa spiritual. Waktu di sini bukan sekadar laju, melainkan pengingat: bahwa hidup mengalir ke arah akhir. Tapi justru karena itu, setiap saat menjadi suci. Larik “Nikmat mana lagi…” menggema bukan sebagai kutukan, tapi pengingat untuk sadar, bahwa bahkan kefanaan pun bisa jadi nikmat jika disadari sepenuh hati. Dalam terang Heidegger, ini adalah bentuk kehadiran otentik—hidup bukan untuk menghindari mati, tapi merawat makna sebelum ditinggal pergi.

Dalam esainya “Building, Dwelling, Thinking”, Heidegger mengembangkan gagasan bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang berdiam (to dwell). Tetapi dwelling di sini bukan sekadar tinggal secara fisik, melainkan bertempat dalam dunia dengan kedalaman dan kepekaan eksistensial. Dalam puisi Kelahiran Indung Telur Persetubuhan Situs Kata, saya menemukan gema dari laku itu:

Kelahiran indung telur
Melahirkan pemikiran persetubuhan berlangsung seru
Mencacah makna Aku

Ini bukan sekadar tubuh sebagai wadah, tapi tubuh sebagai ladang tafsir. “Aku” tidak hadir utuh, tapi dicacah—dibongkar untuk diselami ulang. Di sinilah puisi menjadi hunian, tempat makna tinggal dan menetas dari pengalaman batin paling purba. Heidegger menyebut kondisi ini sebagai “tinggal bersama sesuatu dengan kesetiaan”—dan bait ini adalah bentuk tinggal dalam diri, dalam dunia, dengan penuh kehadiran.

Apa yang menarik dalam Rahasia Tanda adalah bahwa puisi-puisinya tidak mengejar otoritas. Tidak ada klaim kebenaran mutlak. Tidak ada satu arah. Ini juga sejalan dengan konsep Heidegger bahwa kebenaran adalah proses aletheia—pengungkapkan, pembukaan tirai. Puisi tidak membawa kita pada satu kebenaran final, tetapi membuka lapisan-lapisan makna yang selama ini tersembunyi. Mari kita cermati puisi “Mengikuti Kehendak Tuhan Bukan Hal Mudah”:

Mengikuti kehendak Tuhan bukan hal mudah
Seperti jukung oleng diombang ambing arah

Bait ini tidak mencoba mengajarkan kebenaran, melainkan menghadirkan pengalaman ketidakpastian yang sangat manusiawi. Dalam perspektif Heideggerian, inilah bentuk eksistensi otentik: hidup sebagai peziarah yang goyah tapi sadar, bukan sebagai pemegang kompas tunggal yang merasa paling tahu arah. Puisi menjadi proses mengungkap diri, bukan memaksakan makna.

Buku ini bukan hanya kumpulan sajak, tapi peta perjalanan batin. Ia bukan ajakan untuk memahami penyair, melainkan ajakan untuk menyertai keberadaan—dengan segala jatuh-bangun dan kebeningannya. Dalam bait-bait yang ditulis dengan tenang, penyair menawarkan kehadiran yang dalam. Bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai Dasein yang sadar akan berada. Dan saya sebagai pembaca, perlahan-lahan terseret untuk bertanya: sudahkah saya hadir, betul-betul hadir, dalam hidup yang saya jalani?

Saya kira inilah kenapa Heidegger menyebut bahasa sebagai “rumah dari Being.” Sebab hanya melalui bahasa—terutama bahasa puitik—kita bisa mendekati makna keberadaan. Bahasa dalam Rahasia Tanda bukan instrumen. Ia adalah ruang. Ia bukan tangga menuju makna, tapi sumur tempat makna bisa diredamkan, digumamkan, dan dibiarkan berbicara perlahan. Dan kita, sebagai pembaca, diminta bukan untuk menaklukkan puisi, tapi untuk tinggal di dalamnya.

Ketika Kritik Tidak Lagi Membentak, Tapi Membuka Mata

Membaca puisi-puisi sosial dalam Rahasia Tanda seperti menyimak bisikan getir dari sebuah negeri yang telah lama lupa bercermin. Penyair tidak sedang mengamuk, tidak menuntut revolusi, bahkan tidak sedang berpidato. Ia seperti sedang duduk bersila, memandangi kerusakan demi kerusakan, sambil berkata lirih: lihatlah, betapa kita telah menjadi asing bagi nurani sendiri.

Membaca puisi-puisi sosial dalam Rahasia Tanda seperti menyimak bisikan getir dari sebuah negeri yang telah lama lupa bercermin. Penyair tidak sedang mengamuk, tidak menuntut revolusi, bahkan tidak berkhotbah. Ia seperti duduk bersila, memandangi kerusakan demi kerusakan, sambil berkata lirih: lihatlah, betapa kita telah menjadi asing bagi nurani sendiri. Mari kita tengok puisi “Udara Negeri Sedang Tidak Baik-Baik”, yang menulis:

Para nelayan, para petani, ladang, gunung, hampir dimusnahkan
Industri para pendatang dimuliakan hingga menelantarkan pesan ibu pertiwi
Sebaik-baik anak bangsa tidak usah saling menyalahkan
Rasanya bukan bualan bahwa negeri ini di ujung prahara.

Sederhana? Ya. Tapi justru di situlah keampuhannya. Puisi ini bekerja seperti kaca cermin retak—menampilkan pantulan yang tak sempurna, tapi jujur. Dalam pandangan Pierre Bourdieu, kekuasaan bekerja bukan hanya lewat institusi formal, tapi juga melalui simbol, bahasa, dan kebiasaan yang diwariskan tanpa sadar.

Maka ketika penyair menyuarakan kerusakan ekologis dan marginalisasi petani-nelayan tanpa jargon ideologis, ia sebenarnya sedang menggugat tatanan simbolik yang membuat suara rakyat tenggelam dalam hingar budaya dominan. Kritik ini sunyi, tapi menggigit—dan justru karena itu, terasa lebih menusuk.

Mari kita tengok puisi Sajak di Piring, saat penyair melontarkan tanya yang menohok:

Mengapa kalian memaksakan diri dalam sirkuit kebencian sesama manusia?
Kadang ada yang aneh diri ikut gila
Sederhana dibuat rumit
Ternyata mudah diudari

Larik-larik ini seperti teguran lirih yang ditujukan pada kita semua—yang terjebak dalam pusaran konflik, saling serang, dan kebisingan wacana. Bukannya mencari benang jernih, kita justru memperkeruh air. Rupanya ia sedang menggugat tatanan simbolik yang membuat manusia lebih sibuk membela ego dan konflik daripada menjernihkan batin. Kritik ini tidak frontal, tapi menggigit. Larik-lariknya seperti petuah yang terlambat datang, namun tetap menyadarkan.

Salah satu puisi yang kembali menyita perhatian saya adalah “Aku Udara dan”—sebuah sajak yang menggunakan metafora paling tak terduga untuk merumuskan ketabahan yang nyaris mistik: keteguhan untuk tidak membalas kekerasan dengan amarah, melainkan dengan kelapangan yang seolah tanpa batas:

Bila kau menyakiti
Karena aku udara
Aku tidak pernah luka

Dalam dunia yang penuh dendam, bait ini seperti oasis. Kritik yang disampaikan tidak dengan perlawanan, tapi dengan menjelma udara—yang tak bisa dicederai, tak bisa ditahan. Ini bukan bentuk pasifisme lemah, melainkan strategi keberadaan. Ia seperti menerapkan nonviolence Gandhi, tapi dalam versi puitik yang lebih kontemplatif. Kritik sosial di sini bukan soal menggulingkan tirani, melainkan tentang menolak menjadi tirani yang sama.

Lalu kita dapati puisi “Bagi Negeri Ku”, yang seperti catatan harian seorang warga yang lelah namun masih peduli. Ia tidak berteriak, tidak mengutuk, hanya menuliskan dengan jujur luka-luka yang berserakan di sekelilingnya:

Aku ingin tidur panjang
Hidup terlalu berjenjang

Aku frustasi
Judi online dibiarkan

Aku juga malu
Warung tetangga tidak laku

Di saat negara kewalahan menernak pajak
Uang palsu beredar sangat masif dan marak

Ini kritik sosial yang tajam dan getir, tapi justru karena ditulis dengan nada tenang, ia terasa lebih dalam. Di banyak bagian, saya merasa penyair sedang berdiri di antara dua posisi: sebagai saksi sekaligus korban. Ia menyuarakan keresahan, tapi juga menyiratkan keterlibatan. Karena itu, puisinya bukan tuntutan, tapi pertobatan kolektif. Ia tidak ingin menang. Ia ingin kita pulang.

Kritik sosial dalam Rahasia Tanda bukanlah produk kemarahan, melainkan buah dari kesadaran. Ia ditulis dengan rasa lelah yang telah berubah menjadi hikmah. Maka ketika saya membacanya, saya tidak merasa sedang menatap puisi. Saya merasa sedang ditatap—dan dalam tatapan itu, saya tidak sedang dituduh, tapi diajak jujur, pada dunia, dan pada diri sendiri.

Ketika Politik Menjadi Panggung Kebohongan, Puisi Menjadi Peringatan Sunyi

Dalam Rahasia Tanda, politik tidak hadir sebagai perdebatan ideologi, bukan pula sebagai arena perebutan kekuasaan. Politik dalam puisi-puisi Enthieh adalah lanskap luka yang terus terbuka—luka yang ditutup oleh jargon-jargon palsu, oleh spanduk-spanduk yang menjanjikan perubahan tapi hanya mengganti wajah pada kursi yang sama. Maka puisi hadir bukan untuk berteriak, tapi untuk menyingkap. Dan penyingkapan dalam puisi Enthieh dilakukan dengan cara yang sunyi namun tajam, seperti pisau yang digoreskan pelan pada kulit kesadaran kita.

Judul puisi ini sebelumnya sudah saya kutip dalam konteks berbeda, namun kali ini saya ingin menyorot sisi lain yang lebih politis. Salah satu puisi yang memuat kritik sosial dengan sangat subtil sekaligus tajam adalah “Demokrasi di Ujung Kelam”. Dalam salah satu bagiannya, Enthieh menulis:

Demokrasi tersaruk-saruk
Di jalan yang paling banyak spanduk
Tapi paling jarang nurani

Baris terakhir ini, “Tapi paling jarang nurani”, memuat daya hantam paling kuat. Di tengah gemuruh baliho dan jargon, Enthieh menghadirkan satu kata kunci yang nyaris hilang dalam praktik demokrasi hari ini: nurani. Ia bukan sekadar mengkritik institusi atau elite, tapi menggugat kesadaran batin masyarakat secara kolektif. Apalah arti pesta politik jika nurani justru menjadi tamu yang tak pernah diundang? Larik ini menjadi semacam bel peringatan, bahwa yang paling langka dalam demokrasi bukan lagi suara, tapi suara hati.

Kritik serupa muncul dalam puisi “Artifisial Kata-Kata”, yang menyingkap kepalsuan wacana publik dan betapa mudahnya kebohongan diterima sebagai kebenaran. Mari kita simak:

Publik tahu, biasa dan tidak istimewa,
dia cuma artifisial kata-kata.
Berbohong saja rakyat percaya
apalagi berkata benar.

Ini bukan hanya kritik, tapi satire yang menyakitkan. Dan inilah kekuatan puisi: ia bisa menyuarakan kebenaran yang terlalu pahit untuk diucapkan secara langsung. Ia menampilkan wajah-wajah kekuasaan yang lihai berbicara tentang kebenaran, tapi justru menggunakan kebenaran itu sebagai kamuflase. Kritik ini tidak membakar amarah, tapi menyulut kesadaran.

Saya merasa dalam puisi-puisi ini, M. Enthieh berjalan seiring dengan semangat para penyair politik seperti Wiji Thukul—tapi dengan nada yang lebih kontemplatif. Ia tidak membakar semangat, tapi menggerus kesadaran. Perlawanan dalam puisi ini adalah perlawanan batin—perlawanan terhadap apatisme, terhadap sinisme yang membuat kita berhenti berharap, dan bahkan berhenti marah. Dalam puisi “Skenario Otak Bermazhab Sajak”, misalnya, penyair menulis:

Aksara cuma runutan cerita lima tahunan sedang kalian menyebar bunga bank yang disimpan dari rumusan kepentingan para sponsor

Masih dalam bait yang sama, ia menambahkan:

Mereka bermodal kata indah, bicara negeri agar terhindar dari konflik, tetapi sistem membiusbutakan, kawan jadi lawan, lalu kalian senang sendiri, lupa membereskan kembali yang rusak, ternyata rongsokan di kepala menjadi timbunan di lubuknya …

Kritik ini tidak menyasar wajah-wajah politik secara personal, tapi langsung menghantam struktur: bagaimana kata-kata politik dikooptasi menjadi iklan, bagaimana pemilu dijalankan seperti skenario drama, dan bagaimana janji menjadi strategi jangka pendek demi dana dan dukungan

Menarik jika kita hubungkan ini dengan gagasan Jacques Rancière tentang “politics of aesthetics“. Bagi Rancière, politik bukan hanya tentang kekuasaan, tapi tentang siapa yang boleh bicara dan didengar. Puisi-puisi Enthieh, dalam konteks ini, bekerja sebagai reposisi suara. Ia memberi ruang bagi yang selama ini dibungkam, yang selama ini dianggap bisu oleh kekuasaan yang hanya mau mendengar tepuk tangan.

Tapi penyair tidak hanya mencatat kebobrokan politik dalam bentuk kelembagaan. Ia juga menyasar deformasi nilai, kehancuran akhlak kolektif yang menjelma sistem. Dalam puisi Jika Ada Presiden Pembaharu Aku Pastikan Turut, kita membaca:

Penyair tidak berani mati tetapi berani hidup
Karena hidup lebih sulit daripada menunggu mati

Aku setuju jika Presiden mendatang mengumandangkan dengan lantang: bagi hukuman mati untuk sang koruptor

Ini bukan sekadar puisi agitasi. Ini semacam doa getir bagi bangsa yang tak kunjung sembuh dari luka pengkhianatan publik. Enthieh menolak menjadi oposisi yang marah, tapi juga enggan diam sebagai rakyat yang pasrah. Puisinya lahir dari tempat yang ganjil: antara lelah dan harap, antara frustrasi dan iman. Ia seperti sedang berkata—kita sudah tahu semua ini busuk, tapi adakah yang masih sudi mencintai negeri ini tanpa kehilangan akal dan nurani?

Di sinilah puisi Enthieh melampaui sekadar ekspresi. Ia menjadi counter-narrative, narasi tandingan atas wacana dominan yang membius kita dengan euforia semu. Dalam dunia yang dikuasai algoritma dan propaganda, puisi seperti ini adalah ruang sakral. Ia menyimpan kemarahan, tapi juga harapan. Ia menyimpan luka, tapi juga ingatan.

Karena itu, saya percaya: membaca puisi-puisi politik dalam Rahasia Tanda bukan hanya membaca keresahan penyair. Tapi membaca kesadaran yang selama ini kita pendam bersama. Kesadaran bahwa negeri ini bukan hanya rusak karena elitnya, tapi juga karena kita terlalu lama menertawakan luka dan memaklumi pengkhianatan.

Dan dalam kesadaran itu, puisi bukan lagi sekadar seni. Ia menjadi peringatan sunyi. Ia menjadi suara yang tidak perlu pengeras, karena gema nurani lebih nyaring dari toa manapun. Sebab puisi yang baik tidak hanya berkata—ia membangunkan.

Puisi Sebagai Jalan Pulang

Setelah menelusuri bait demi bait dalam Rahasia Tanda, saya sampai pada satu kesimpulan yang bukan hendak mengakhiri, melainkan membuka: bahwa puisi bukan sekadar permainan bahasa atau catatan perasaan, tapi jalan pulang yang tak selalu kita sadari sedang kita tempuh. Pulang ke mana? Pulang ke dalam. Pulang ke sunyi. Pulang ke keheningan yang tidak lagi menakutkan, tapi menenteramkan.

Puisi-puisi M. Enthieh Mudakir bukan jenis puisi yang ingin mengesankan pembaca. Ia tidak dirancang untuk pamer estetika atau pencapaian diksi. Sebaliknya, puisinya justru membuka ruang bagi pembaca untuk hadir. Bukan untuk mengerti sepenuhnya, tetapi untuk ikut mengalami. Dan dalam dunia hari ini—yang terlalu banyak meminta kita cepat paham, cepat simpulkan, cepat lari—keberadaan puisi-puisi semacam ini adalah anomali yang menyembuhkan.

Saya menemukan dalam larik-lariknya sesuatu yang langka: keberanian untuk tidak memikat, tapi mengendap. Keberanian untuk tidak menjelaskan, tapi mengundang. Seperti dalam puisinya:

Siapa berlari sekejap tadi
Ayat-ayat meriwayat
Situs kata
Rahasia tanda

Dalam puisi “Rahasia Tanda”—yang kutipannya saya nukil sebelumnya—saya merasa Enthieh tidak membuka rahasia, tapi justru merawat pencarian itu sendiri: sebuah perjalanan batin yang lembut dan dalam; tubuh menjumpai dirinya sendiri, anak-anak nurani tumbuh dari kesunyian, dan yang tersembunyi diam-diam menetap di tempat paling terang.

Merenungi puisi itu, saya seperti diingatkan bahwa rahasia bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk disertai. Dan bukankah begitu pula hidup? Kita tak bisa selalu memahaminya. Tapi kita bisa menyertainya—dengan cinta, dengan jujur, dengan sadar. Maka puisi, dalam buku ini, menjadi bentuk paling lembut dari laku spiritual: tidak menggurui, tapi menemani. Tidak mengklaim arah, tapi menyalakan lentera.

Saya percaya bahwa yang akan mengingat buku ini bukanlah kekuatan metaforanya, meskipun itu ada. Bukan pula gagasan-gagasannya, meskipun ia cukup pekat. Tapi yang paling lama tinggal adalah getarannya. Suara sunyi yang mengalir perlahan dan menyentuh bagian dalam diri yang sering kita tinggalkan sendirian.

Dan saya—sebagai pembaca, sebagai saksi, sebagai seseorang yang juga mencari tanda—merasa dituntun oleh puisi-puisi ini. Tidak ke satu kebenaran tunggal. Tapi ke kesediaan untuk hadir sepenuhnya dalam ketidaktahuan. Dalam ketaksaan (ambiguitas). Dalam rahasia.

Sebab jika kata adalah rumah, dan puisi adalah jendelanya, maka Rahasia Tanda membuka jendela itu ke arah cahaya yang tak menyilaukan, tapi cukup untuk membuat kita melihat kembali siapa diri kita sebenarnya. Dan itu, bagi saya, adalah puisi yang berhasil.

Dalam Sunyi yang Berbicara, Kita Menyimak Diri

Kini, setelah menelusuri keseluruhan Rahasia Tanda, saya merasa tak sedang selesai membaca, tapi justru baru mulai mendengar. Buku ini tidak menawarkan jawaban, bahkan bisa dikatakan tak mengajukan pertanyaan secara terang-terangan. Tapi justru dalam ketidakterangannya, dalam diamnya yang tekun dan lembut, puisi-puisi ini membuka celah—bukan untuk mendebat, melainkan untuk menyimak. Bukan untuk mencari benar dan salah, tapi untuk menemukan kembali diri yang mungkin telah lama tercecer.

Sebagaimana yang telah saya uraikan di bagian-bagian sebelumnya, karya M. Enthieh Mudakir ini memuat spektrum yang luas: dari spiritualitas sunyi, kontemplasi eksistensial, hingga kegelisahan sosial dan politik. Namun semua itu bukan fragmen yang tercerai, melainkan satu jalinan utuh dari sebuah kesadaran yang merunduk, tapi tajam. Sebuah upaya untuk tidak hanya menulis puisi, tetapi merasai hidup dari balik kata.

Saya percaya, buku ini tidak akan sama dibaca oleh setiap orang. Dan itulah justru kekuatannya. Sebab Rahasia Tanda tidak dibuat untuk dimiliki, tapi untuk dibagi. Ia bukan milik satu tafsir, satu paham, satu generasi. Ia adalah semacam danau sunyi: siapa pun yang mendekat dengan jujur, akan melihat pantulannya sendiri.

Dalam dunia yang terlalu sibuk dengan penampilan dan performa, buku ini mengingatkan kita pada kekuatan dari apa yang tak tampak: dari keikhlasan, dari keraguan yang tenang, dari pertanyaan yang tidak buru-buru mencari jawaban. Ia mengajarkan kita untuk tidak hanya melihat, tapi juga menunduk. Untuk tidak hanya mendengar, tapi juga mendengarkan. Untuk tidak hanya membaca, tapi juga diam.

Dan saya percaya, ketika puisi sampai pada titik ini—ia bukan lagi semata karya sastra. Ia adalah teman jalan. Ia adalah tasbih yang mungkin tak kita lafalkan secara literal, tapi senantiasa berdenting dalam batin.

Maka saya mengajak pembaca, bukan untuk sepakat, tetapi untuk menyertai. Menyertai apa? Menyertai diri sendiri. Menyertai dunia yang penuh luka, tapi juga penuh tanda. Menyertai waktu yang terus berjalan, namun menyimpan makna jika kita bersedia berhenti sejenak dan melihatnya dari ruang sunyi.

Karena pada akhirnya, sebagaimana bait-bait yang tertulis dengan kesadaran dan kejujuran, hidup ini bukan tentang menjadi yang paling tahu, melainkan tentang berserah dalam cahaya yang tak seluruhnya kita mengerti. Wallahua’lam.

Ketanggungan, Brebes, 3 April 2025

Abu Ma’mur MF, Komite Sastra Dewan Kesenian Kabupaten Brebes, wakil ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PCNU Kab. Brebes, dan ketua Divisi Sastra Sanggar Srong.

dewabuku

all author posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are makes.