Tentu saja puisi tidak sepenuhnya merupakan dunia tersendiri (dunia imajinasi) yang diciptakan oleh kata-kata. Puisi bisa merujuk pada sebuah peristiwa sehari-hari bahkan pada realitas sejarah, realitas sosial masyarakat di masa lalu. Kata-kata dalam puisi dijadikan jari-jari untuk menggenggam dunia realitas; berusaha memberikan jalan masuk pada peristiwa-peristiwa tertentu yang dirasa cukup dijadikan bahan renungan, atau semacam penyampaian untuk diketahui.
Dalam masyarakat luas, puisi-puisi yang merujuk pada realitas lebih dikenal dan mendapatkan apresiasi luas dibanding dengan puisi-puisi yang ‘ngamar’ (puisi kamar). Dalam buku ini pun terbaca puisi-puisi yang merujuk pada realitas-realitas yang dapat dijadikan simbol makna untuk terus digali lebih dalam lagi masuk ke peristiwa-peristiwa tersebut.
Ini menjadi semacam titik terang untuk perpuisian di Indonesia, khususnya para penyair muda yang kini mulai menyadari bahwa puisi adalah jalan kebenaran untuk menyampaikan sesuatu, bukan sekadar untuk berkeluh-kesah soal luka atau kesenangan pribadi.
Mari menyelam lebih dalam.

Ulasan
Belum ada ulasan.