Buku ini bukan sekadar rangkaian rima dan diksi, melainkan sebuah peta perjalanan batin yang disusun dari remah-remah kenangan, air mata, dan sujud yang panjang. Angka 66 bukan sekadar urutan, melainkan simbol dari konsistensi dalam merangkai makna dari setiap fase kehidupan yang telah dilalui oleh penulis.
Antologi ini disusun secara tematik ke dalam empat bagian yang saling berkelindan:
Evolusi Rasa: bagian ini memotret transformasi emosional manusia, dimulai dari kemurnian masa kanak-kanak hingga dinamika pencarian jati diri menuju fase yang penuh debar.
Muara Cinta: bagian ini mengeksplorasi dimensi kasih sayang yang tak terbatas serta ketabahan seorang perempuan bernama ibu. Sebagai sosok pelindung paling teduh dan tempat pulang paling aman dan nyaman, sebab di sana ada doa yang tidak pernah tidur.
Mengetuk Pintu Langit: bagian religi ini merupakan percakapan sunyi antara hamba dengan Sang Khalik. Berisi untaian doa, harapan, dan kepasrahan. Dimensi religiusitas ini menjadi bagian tak terpisahkan sebagai makhluk fana.
Remah Kegelisahan: sebagai penutup, enam puisi istimewa yang memiliki nyawa tersendiri dan karakteristik yang unik. Melintasi ragam lanskap imajinasi dan realitas yang berbeda.
Ulasan
Belum ada ulasan.