Buku ini lahir karena rasa yang gelisah dari hati. Bagaimana ada sejarah-sejarah yang mewariskan luka di masa depan. Warisan-warisan luka ini akhirnya dituliskan menjadi naskah-naskah monolog yang bisa saja dipentaskan di atas panggung oleh aktor-aktor teater.
Pilihan bahasa yang menggunakan bahasa Tegal adalah mempertegaskan bahwa ‘sastra etnik’ tidak kehilangan suaranya di kalangan masyarakat. Bahasa daerah juga bisa menjadi alat pikir dan alat ekspresi untuk menyampaikan sesuatu kepada masyarakat umum.
Luka dalam buku ini bukanlah darah tetapi luka-luka ini yang ada di kehidupan masyarakat, baik luka secara fisik maupun batin yang pada akhirnya menjadi sebuah trauma atau kemarahan, kepedihan dan keterasingan.



Ulasan
Belum ada ulasan.