Puisi-puisi dalam buku ini hadir di antara segala yang terpahami dan yang tak mampu dijelaskan. Ada masa ketika kata bagai makhluk hidup, membuah dengan tenang, dari sinilah penulis mulai menulis lebih bersemangat, berlandaskan niat menandai apa saja yang telah berlalu.
Burung-burung di buku ini sepertinya dibiarkan sebagai pengembara setia, menampung suara yang tersangkut, doa yang tertinggal, kabar yang tak sempat dikirimkan sesiapa. Mereka adalah saksi kecil dari hal-hal yang terabaikan. Setiap kali terbang, mereka menggendong kesadaran. Sehingga, puisi-puisi dalam kumpulan Burung-Burung Pantai ini tampaknya tidak terlalu memaksa pembaca untuk bergegas mencari makna dari setiap lariknya, lalu dengan terburu-buru menafsirkannya sebagai pesan. Justru di kumpulan ini puisi seakan membuka dirinya lebar-lebar untuk dimasuki dengan santai, digauli dengan mesra serta dihayati sebagai pengalaman bertumbuh bersama bahasa.
Buku ini tidak mencoba membersitkan harapan, tetapi juga tidak menyerah pada keputusasaan. Ia lahir dalam waktu yang panjang, dari sunyi yang berkali-kali.

Ulasan
Belum ada ulasan.