Bentuk baru adalah target penyair dalam menulis puisi. Kebaruan dalam puisi memang dinantikan penikmat sastra dan para sastrawan berupaya menghadirkan itu dengan beragam cara, walaupun perlu dipahami; yang dimaksud “baru” bukan mutlak berubah secara autentik dan totalitas, tapi lebih pada upaya pengembangan atau penyegaran dari yang telah ada, baik dalam bentuk, struktur, gaya bahasa, diksi, maupun tipografi.
Di buku ini, penyair mencoba menawarkan upaya itu, sajian puisi-puisi yang ditulis di dalamnya berbentuk “alur domino”; dari bait ke bait disambung oleh kata yang sama, seolah kata itu berperan sebagai jembatan dari bait yang sebelumnya ke bait yang sesudahnya, yang secara beruntun terus berlanjut hingga bait terakhir. Penyajian yang seperti ini tentu memberi tantangan tersendiri bagi penyair.
Selain dari bentuk kepenulisannya, buku yang berjudul “Interupsi Tanah Garam” ini berisi puisi-puisi tematik tentang tanah yang ada di Pulau Madura, mulai dari sisi ritualitas hingga pada komersialitas. Jika penyair-penyair sebelumnya banyak menggunakan fitur alam Madura sebagai metafora demi sebuah estetika dengan diksi yang memuja-muja, kali ini penyair tak sepenuhnya seperti itu. Kondisi alam Madura pasca pembangunan Suramadu, samar-samar membingkai jalur garis sintesis ekonomi neo-liberal antara Surabaya dan Madura. Hal itu ditandai dengan ekspansi industri yang sebelumnya berpusat di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Pasuruan, kini pelan-pelan mulai pindah ke Madura.
Begitulah yang dapat dinikmati dalam buku ini. Selamat membaca.



Ulasan
Belum ada ulasan.