Tidak semua tanda meminta untuk dimengerti. Sebagian justru hadir sebagai teka-teki yang menolak dikurung dalam definisi. Dalam dunia yang terlampau tergesa menyimpulkan, antologi puisi Rahasia Tanda karya M. Enthieh Mudakir bagi saya adalah undangan untuk melambat, merenung, dan membaca ulang realitas—bukan melalui kacamata logika belaka, melainkan melalui kalbu, sejenis peranti baca batin yang kerap terlupakan.
Sejak puisi pembuka “Rahasia Tanda”, saya merasa diajak menyadari bahwa puisi dalam buku ini bukan sekadar bahasa, tapi juga ruang tafsir. Dalam baitnya, Enthieh menulis: “Puisi ini merupakan / Pencarian rahasia tanda / Di mana qolbu merisetnya / Menelusuri rahasia demi rahasia.” Bagi saya, ini adalah kredo awal, semacam deklarasi bahwa puisi adalah alat riset ruhani. Maka ia tak cukup dibaca dengan akal. Ia perlu dirasakan, didiamkan, diresapi.
Enthieh tidak sekadar menulis; ia menyulam. Ia tidak menyusun kata demi keindahan, tapi demi kejujuran. Kejujuran yang acap menyakitkan, karena mengungkap apa yang selama ini tersembunyi di balik kesalehan semu, di balik politik basa-basi, dan di balik bahasa yang terlalu sering menjadi alat kekuasaan ketimbang wadah kebenaran.
Abu Ma’mur MF
Komite Sastra Dewan Kesenian Kabupaten Brebes
Wakil Ketua Lesbumi PCNU Kab. Brebes.



Ulasan
Belum ada ulasan.